Supremasi Kulit Putih – Teror Nyata Berlatar Belakang Ras

Whatsapp Pinterest LinkedIn Tumblr +

SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) yang secara alamiyah ada dan berkembang di tengah masyarakat merupakan satu isu yang akan melahirkan bermacam dampak, baik berupa dampak positif maupun negatif. Di satu sisi adanya SARA akan membentuk karakter seseorang yang mampu bersikap toleran terhadap golongan lain, tetapi di sisi lain banyak orang yang justru bersikap sebaliknya. Standaritas kebenaran yang mereka klaim milik kelompok sendiri berimbas pada terjadinya konflik bahkan teror nyata yang menyalahi norma.

Isu ini juga yang melatar belakangi beberapa orang melepas sifat manusiawinya dengan meneteskan darah manusia lain yang mereka anggap salah atas dalih agama, ras, suku maupun lainnya. Derasnya berita terkait terorisme atas nama agama telah berimbas pada terbentuknya stigma ekstrim yang melekat pada agama tertentu. Padahal, banyak juga darah yang terkucur akibat kekerasan berlatar belakang ras atau suku misalnya.

Teror Atas Nama RAS

Supremasi Kulit Putih adalah salah satu contoh ideologi yang menggiring seseorang untuk berpikir ekstrim dan mengekspresikannya dengan tindakan teror nyata. Mereka beranggapan bahwa ras kulit putih lebih superior dari ras lainnya dan oleh karenanya mereka adalah kelompok yang paling berhak untuk mendominasi dunia. Ideologi ini telah berkembang meluas ke berbagai negara. Mereka bertanggung jawab atas terjadinya puluhan bahkan ratusan peristiwa teror keji. Bahkan kategori musuh bagi kelompok ini lebih luas daripada kelompok teror atas nama agama. Perbedaan konsep mengenai siapa yang dianggap kulit putih pun masih menjadi hipotesa diantara masing-masing penganut.

Sejarah Supremasi Kulit Putih

Paham Supremasi Kulit Putih menginduk pada negri paman Sam. Sekitar tahun 1983 sampai 1984 di Amerika Serikat tingkat rasisme warga berkulit putih terhadap warga kulit hitam maupun etnis yahudi menguat hingga berujung pada terjadinya ketegangan rasial dan konflik. Pada masa itu orang kulit putih menggunakan ras untuk melegitimasi dan menciptakan perbedaan serta pengucilan sosial, ekonomi dan politik.

Baca Juga: Membangun Deradikalisasi Dengan Jejaring Bersinergi

Hal tersebut sebenarnya sudah melekat pada Amerika Serikat beberapa abad sebelumnya, sekitar tahun 1790 kongres Amerika Serikat mengesahkan undang-undang yang dinamakan The Naturalization Act of 1790. Undang-undang tersebut membatasi kewarganegaraan AS hanya untuk orang kulit putih. Di beberapa bagian Amerika Serikat, banyak orang yang dianggap non-kulit putih dicabut haknya, dilarang menjabat di pemerintahan, dan dicegah memegang sebagian besar pekerjaan pemerintah. Hal tersebut berlangsung hingga paruh kedua abad ke-20.

Diskriminasi sosial di Amerika terus berlanjut hingga pertengahan abad 20. Kemudian pada 1965 disahkanlah undang-undang Hart-Celler atau Undang-undang Imigrasi dan Kebangsaan tahun 1965. Undang-undang tersebut menghapus Formula Asal Nasional yang telah menjadi dasar kebijakan imigrasi AS sejak 1920-an. Tindakan tersebut menghapus diskriminasi de facto terhadap orang Eropa Selatan dan Timur, Asia dan kelompok etnis non- Eropa Barat Laut lainnya dari kebijakan imigrasi Amerika. Hasilnya, campuran demografis penduduk AS berubah secara signifikan.

Pergeseran tersebut terus berlanjut dan berdampak besar pada orang berkulit putih AS. Perkawinan antar ras, integrasi akomodasi publik dan berkurangnya diskriminasi sosial mengakibatkan superioritas ras kulit putih kian luntur, dominasi mereka pun terus mengalami penurunan hingga tahun 1990-an.

Menurut beberapa pengamat politik dan sejarawan AS, militansi kulit putih akhirnya bergeser ke taraf lebih radikal. Mereka memposisikan diri sebagai “white-power” atau “white nationalism” dan berkomitmen untuk menggulingkan pemerintah AS dan mendirikan tanah air kulit putih. Beberapa kelompok berideologi Supremasi Kulit Putih seperti Ku Klux Klan, organisasi neo-Nazi, dan skinhead rasis menjadi wadah bagi berlangsungnya ideologi tersebut. Kelompok ini kemudian bermetamorfosa dengan menganggap musuh mereka tidak hanya berdasarkan warna kulit tetapi telah bercampur dengan anti-semitism (anti yahudi), neo-kondeferasi hingga anti-muslim dan katolik. Mereka bergerak secara massive untuk melakukan propaganda melalui selebaran dan stiker hingga tindakan teror yang menelan ratusan korban. Dalam sepuluh tahun terakhir kelompok ini bertanggung jawab atas beberapa kejadian teror tragis.

Rentatan Teror Kelompok Supremasi Kulit Putih

  • Juli 2011 – Pembunuhan 77 orang di pulau Utoya dan Oslo, Norwegia.
  • Agustus 2012 – Penembakan kuil Sikh di Oak Creek, Wisconsin, Amerika Serikat.
  • APRIL 2014 – Penembakan di pusat rehabilitasi Yahudi dan rumah jompo di Overland Park, Kansas, AS
  • Juni 2015 – Penembakan di gereja warga kulit hitam di Charleston, South Carolina, Amerika Serikat.
  • Oktober 2015 – Penikaman di sekolah kota Trollhättan, Swedia.
  • Juni 2016 – Pembunuhan Anggota Dewan Inggris Jo Cox.
  • Januari 2017 – Penembakan masjid di Quebec, Kanada.
  • Juni 2017 – Penabrakan di luar masjid Finsbury Park, Inggris.
  • Agustus 2017 – Penabrakan demonstran anti-Nazi Charlottesville, Virginia, AS.
  • Oktober 2018 – Penembakan di sebuah supermarket di Kentucky, AS.
  • November 2018 – Penembakan di Sinagoga Tree of Life, Pittsburgh, Amerika Serikat.
  • 15 Maret 2019 – Penembakan di di Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre di Christchurch, Selandia Baru.

Kesimpulan

Banyaknya fenomena terorisme dengan berbagai macam motif dan latar belakang ini membuktikan bahwa kita semua masih berada dalam kepungan ideologi radikal yang kapan saja bisa merubah pola pikir tanpa kita sadari. Distribusi materi propaganda yang begitu massive dilakukan oleh beberapa kelompok perlu kita waspadai. Dalam situasi seperti ini, berpikir kritis adalah filter yang dapat meminimalisir masuknya paham menyimpang pada diri kita. Minimal kita tidak menelan mentah sodoran suatu ide, tetapi ada diskusi dalam diri yang nanti mempertimbangkan apakah ini sesuai atau tidak.

Share.

Leave A Reply

twelve − 8 =