Teladan Ali Bin Abi Thalib dalam Melindungi Hak Konstitusi non Muslim

Ali bin Abi Thalib ra, adalah Khalifah ke tiga Khulafaurrasyidin, sebagai seorang pemimpin tertinggi Islam beliau telah memberikan teladan yang sangat baik terkait bagaimana melindungi Hak konstitusional Non Muslim.

Kisah bermula ketika Ali bin Abi Thalib ra yang sedang menjabat sebagai Khalifah tersebut sedang melakukan inspeksi di Pasar kota Madinah, tiba-tiba beliau melihat orang Yahudi (dalam riwayat lain orang Nasrani ) sedang memakai baju Jirah pelindung tubuh yang digunakan saat berperang, beliau sangat mengenali Baju Jirah tersebut, sebab baju tersebut adalah milik beliau yang hilang di medan perang ketika beliau terlibat dalam perang Shiffin.

Melihat baju Jirah beliau ada pada orang Yahudi tersebut beliau segera menegurnya dan meminta agar baju tersebut di kembalikan, namun diluar dugaan orang Yahudi yang membawa Baju milik Sayidina Ali tersebut malah menolak mengembalikan bahkan menegaskan kepada Ali bahwa Baju Jirah tersebut adalah miliknya.

Menghadapi sikap orang Yahudi tersebut,   Ali bin Abi Thalib ra yang merupakan seorang pemimpin tertinggi kaum muslimin pada masa itu tidak menggunakan jabatannya untuk mempersekusi dan melakukan tekanan atau intimidasi, beliau memilih untuk mengadukan hal ini kepada Hakim terbaik yang ada di Madinah.

Sikap   ini menunjukkan bahwa walaupun beliau adalah penguasa tertinggi di wilayah yang sudah dikuasai kaum Muslimin, namun beliau tetap menjaga hak konstitusional penduduknya, termasuk hak konstitusional non Muslim yang tinggal di wilayah kekuasaan beliau.

Berpedoman pada Hukum Dzahir.

Setelah permasalah diadukan kepada hakim yang bernama Syuriah keduanya dipanggil menghadap:

 Syuriah berkata: “Wahai Amirul Mukminin apa yang engkau adukan?”,

Ali ra: “Wahai hakim, baju Jirah yang ada pada orang Yahudi itu adalah milikku ia telah mengambilnya.”

Selanjutnya Syuraih memberi kesempatan kepada terlapor yakni orang Yahudi tersebut untuk memberikan hak jawabnya.

Yahudi: ‘baju Jirah ini ada ditanganku dan ini milikku.”

Ali ra membantah: “kamu bohong, Baju Jirah itu milik saya saya sangat mengenalnya”.

Syuriah segera menengahi: “Wahai Amirul Mukminin adakah engkau memiliki saksi?”

Ali ra: “Ya Hasan dan Husain adalah saksinya,” 

Syuraih: “Persaksian anak atas orang tuanya tidak bisa dibenarkan wahai Amirul Mukminin, tentu engkau sangat memahaminya, Wahai Yahudi apakah engkau berani bersumpah bahwa baju itu milikmu?”

Yahudi: “Ya saya bersumpah bahwa baju ini milik saya.”

Setelah mendapat keterangan dari kedua belah pihak akhirnya Syuraih memutuskan dengan tetap berpegang pada hukum Dzahir (hukum Positif) bahwa dalam persidangan itu Ali bin Abi Thalib tidak dapat menghadirkan saksi yang dibenarkan oleh aturan islam (bukan pihak keluarga) sementara orang Yahudi bersedia bersumpah, maka pengadilan yang dipimpin Syuraih yang merupakan anak buah sang Khalifah itu akhirnya memenangkan orang Yahudi sebagai pemilik Baju Jirah tersebut.

Tentu Syuraih sangat kenal dengan Ali bin Abi Thalib yang tidak mungkin mengkalim sesuatu yang bukan haknya, namun sebagai hakim ia berkewajiban berpegang pada aturan Dzahir, dan ternyata keputusan Syuraih ini diterima dengan “legowo” oleh beliau.

Dakwah dengan Sikap Baik Jauh lebih Mengena

Setelah diputuskan sebagai pemenang dalam sengketa Baju Jirah tersebut Yahudi tadi keluar dari ruang Sidang dengan membawa Baju Jirah yang ditetapkan oleh pengadilan sebagai miliknya, namun sebelum meninggalkan ruang sidang  ia segera berbalik dan menyatakan kagum atas sikap profesional Ali Bin Abi Thalib dan hakim Syuraih, sikap inilah yang kemudian membuat Orang Yahudi itu memilih memeluk islam kemudian mengembalikan baju Jirah kepada Ali ra yang memang merupakan pemilik aslinya, Ali bin Abi Thalib pun menerimanya namun segera menyerahkan kembali kepada orang yahudi tadi sebagai hadiah.

Kisah ini mengajarkan bahwa walaupun berbeda keyakinan namun hak konstitusional serta keamanan seseorang tetap harus dilindungi, dan dengan cara seperti inilah semestinya dakwah islam disampaikan.

Baca juga: https://carubannusantara.or.id/agama-sumber-inspirasi-kedamaian/

Avatar
Abdul Hadihttps://carubannusantara.or.id/
Seorang Pelajar, yang selalu berusaha belajar

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 − 1 =