Toleransi Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari

Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari merupakan pendiri sekaligus  Rais Akbar pertama Jam’iyah Nahdlatul Ulama, beliau termasuk ulama yang memiliki keluasan ilmu dan aktif menulis terutama terkait hukum Islam, keluasan Ilmu yang beliau miliki berbanding lurus dengan akhlak  beliau yang sangat mulia bahkan terhadap mereka yang berbeda pandangan keagamaan sekalipun, sikap beliau merupakan teladan yang patut dicontoh oleh kita semua.

Perbedaan pandangan keagamaan yang terjadi antara para ulama adalah sebuah keniscayaan, hal itu disebabkan oleh kenyataan  bahwa sumber primer hukum Islam (baca: Al Qur’an dan Hadits) memiliki karakteristik yang berbeda-beda, ada yang mengandung makna pasti, ada juga yang mengandung berbagai kemungkinan makna atau biasa disebut dengan istilah Dzanni.

Banyaknya ayat Al-Qur’an maupun Hadits Nabi yang memiliki makna Dzanni ini lah yang menyebabkan lahirnya perbedaan pandangan ulama semenjak sepeninggal Rasulullah SAW sampai sekarang, perbedaan tersebut merupakan konsekuensi logis dari adanya Nash Dzanni itu sendiri.

Kisah Perbedaan Pandangan Syeikh Hasyim Asy’ari dan Syeikh Faqih Maskumambang

Dalam sebuah ceramah agama, Gus Dur yang merupakan cucu dari Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari menceritakan bahwa pada tahun 1928 NU menerbitkan majalah dengan nama “Swara Nahdhato’el Oelama”, dalam terbitan perdana majalah tersebut memuat tulisan Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari tentang Hukum menggunakan kentongan sebagai alat memanggil Shalat, dalam pandangan beliau penggunaan kentongan sebagai alat memanggil orang untuk Shalat adalah haram, sementara memanggil orang untuk Shalat menggunakan beduk adalah boleh.

Pada kesempatan lain dalam terbitan kedua majalah “Swara Nahdhato’el Oelama” Syaikh Faqih Maskumambang yang merupakan wakil Rais Akbar menuliskan pandangan yang berbeda terkait penggunaan kentongan sebagai alat memanggil orang untuk sholat, dalam tulisan itu Syaikh Faqih Maskumambang menyampaikan (sebagaimana diceritakan oleh Gus Dur) “walaupun saya Ta’dzim (hormat) kepada Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari, saya agak beda pendirian saya, menurut saya kentongan itu untuk manggil Sholat jadi qiyasnya  pada memangil Sholat itu, jadi kalau memanggil Sholat dengan Beduk boleh diqiyaskan kepada Kentongan juga boleh, Wajhul qiyasnya disitu.”

Sikap Toleran Dua Ulama Besar NU sebagai Sebuah Teladan

Mengetahui ada pandangan yang berbeda dari Wakil Rais Akbar NU yaitu Syaikh Faqih, Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari yang merupakan Rais Akbar NU kala itu, bersikap sangat bijak dan menaruh hormat terhadap Syaikh Faqih yang berbeda pandangan keagamaan dengan beliau.

Beliau segera mengumpulkan santri-santri senior dan murid-murid beliau yang merupakan kiyai-kiyai yang ada di Jombang dan memerintahkan untuk membaca kedua tulisan yang berbeda pandangan itu.

Selanjutnya Hadratus Syaikh mempersilahkan untuk memilih dua pandangan yang berseberangan itu, bahkan beliau mengakui bahwa dua pandangan yang berseberangan itu sama-sama memiliki dasar yang kuat.

Selanjutnya  beliau meminta agar masjidnya di Tebuireng tidak diberi kentongan, (amanat ini dijaga sampai sekarang) namun untuk tempat lain, beliau benar-benar membebaskan santri-santrinya untuk memilih pandangan yang cocok dengan mereka. Hal ini merupakan teladan dalam menyikapi perbedaan pandangan keagamaan yang telah dicontohkan langsung oleh Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari.

Dikesempatan lain, Syaikh Faqih mengundang Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari untuk mengisi acara Maulidan dipesantren Maskumambang, tiga hari sebelum kedatangan Hadratus Syaikh, Syaikh Faqih mengirim 110 utusan untuk menyebar ke Masjid dan Musholla yang ada di Kabupaten Gresik yang berjumlah 400 pada saat itu, untuk menurunkan kentongan selama Hadratus Syaikh ada di Gresik, sebuah sikap penuh akhlak dari seorang ulama terhadap ulama lain walau berbeda pandangan keagamaan.

Kisah diatas merupakan teladan nyata bagi kita semua bagaimana menyikapi perbedaan pandangan keagamaan, berbeda pandangan merupakan keniscayaan, namun sikap toleran dan saling menghormati merupakan teladan dan kewajiban.

Baca Juga: Memahami Makna Jihad

Abdul Hadihttps://carubannusantara.or.id/
Seorang Pelajar, yang selalu berusaha belajar

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − five =