Para Ulama Menyikapi Perbedaan dengan Sikap Toleran (2)

Kisah Imam Syafii meninggalkan Madzhabnya demi menghormati Imam Malik

Imam Syafi’i ra  adalah salah satu ulama besar pendiri Madzhab Syafi’i, dilahirkan Ghaza Palestina pada tahun 150H atau sekitar 767M. Sebagai ulama yang mencapai tingkat Mujtahid beliau telah mencontohkan bahwa dalam menghadapi perbedaan, ulama harus menyikapinya dengan sikap toleran.

Adalah Imam Syafi’i memiliki pendapat bahwa Qunut merupakan salah satu Sunah Ab’adnya sholat subuh. Sunah Ab’ad dalam madzhab Syafi’i adalah sunah yang memiliki kedudukan sangat kuat sehingga jika sunah tersebut ditinggalkan, dianjurkan untuk menggantinya dengan Sujud Sahwi.

Sebagaimana dijelaskan bahwa Imam Syafii memposisikan Qunut Subuh sebagai sunah Ab’ad, tentu beliau tidak hanya memfatwakan hal demikian akan tetapi sudah bisa dipastikan beliau tidak meninggalkan Qunut subuh yang beliau Yakini sebagai amalan sunah Ab’ad tersebut.

Namun kebiasaan beliau melakukan qunut Ketika shalat subuh itu beliau tinggalkan demi menunjukkan sikap hormat dan toleransi terhadap pandangan ulama lain.

baca juga: Ulama menyikapi Pebedaan dengan sikap Toleran (2)

Kisahnya adalah Ketika Imam Syafii berziarah ke Makam Imam Abu Hanifah ulama besar pendiri Madzhab Hanafi, kelahiran  Kufah tahun 80 H. sebagaimana diketahui Imam Syafi’i memiliki pandangan berbeda dengan Imam Abu Hanifah soal Qunut Subuh, bagi Imam Syafi’i qunut subuh hukumnya sunah muakkad sementara bagi Imam Abu Hanifah Qunut Subuh tidaklah disunahkan.

Sebagai bentuk penghormatan dan sikap toleransi Imam Syafi’i terhadap pendapat ulama lain dalam hal ini imam Abu Hanifah, maka Imam Syafi’i Ketika berada di komplek pemakaman Imam Abu Hanifah, beliau memilih meninggalkan Qunut Subuh dan tidak menggantinya dengan Sujud Sahwi, hal ini menunjukkan bahwa yang beliau lakukan adalah sesuai dengan madzhab Imam Abu Hanifah yang tidak mensunahkan Qunut subuh.

Sikap Imam Syafi’i tersebut merupakan suri tauladan dalam menyikapi perbedaan, para ulama terdahulu telah memberikan contoh bagaimana pentingnya menyikapi perbedaan dengan sikap toleran. Sikap toleran inilah yang kemudian melahirkan kenyamanan dan kedamaian walau dalam perbedaan pandangan sebagaimana tujuan islam itu sendiri untuk mewujudkan tatanan yang damai dalam perbedaan.

Konsistensi Ulama Dalam Menjaga Toleransi.

Dalam madzhab Syafi’i ada satu kaidah yang berbunyi

الخروج من الخلاف مستحب

Menghindari perbedaan adalah sunnah

Maksud dari kaidah itu adalah, memilih sikap toleransi terhadap pandangan keagamaan yang berbeda demi terhindarnya perselisihan adalah sunah, maka banyak sekali madzhab syafii menghukumi sunah suatu amalan walau tidak ada dalil yang pasti sesuai standar madzhab syafi’i, namun oleh ulama lain amalan itu hukum wajib, atas dasar menjaga toleransi maka madzhab syafi’i menghukuminya sunah (dengan harapan pengikut madzhab syafi’i tetap mengamalkannya, sehingga madzhab lain melakukan karena wajib, sementara madzhab syafi’i juga melakukan demi menjaga agar tidak nampak perselisihan) dalam bahasa kitab klasiknya sering disebut dengan istilah (خروجا من الخلاف)  menghindari perselisihan.

Jika sikap toleransi yang diajarkan ulama itu dijadikan pegangan dalam menjalankan paham keagamaan, niscaya tidak akan ada perselisihan ataupun kekacauan atas nama agama, karena pada dasarnya agama mengajarkan kedamaian dan sikap toleran.

Dari berbagai sumber

Abdul Hadihttps://carubannusantara.or.id/
Seorang Pelajar, yang selalu berusaha belajar

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve + 8 =