What is Lone Wolf ?

Lone wolf merupakan istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan bentuk kekerasan politik yang serupa atau sebanding meliputi “perlawanan tanpa pemimpin”, “terorisme individu”, dan “terorisme lepas”. (researchgate.net: Bakker)

Definisi lain dari Burton dan Stewart dalam esai Stratfor mereka mendefinisikan satu-satunya pelaku sebagai “seseorang yang bertindak sendiri tanpa perintah dari atau bahkan koneksi ke suatu organisasi. lone wolf adalah seorang agen yang berdiri sendiri yang pada dasarnya tertanam dalam masyarakat sasaran dan mampu melakukan aktivasi diri kapan saja,” kata Bakker. Perbedaannya dengan sel tidur, yang beroperasi menyusup ke masyarakat atau organisasi yang ditargetkan dan kemudian tetap tidak aktif sampai suatu kelompok atau organisasi memerintahkan mereka mengambil tindakan.

Meskipun beberapa lone wolf telah dikaitkan dengan jaringan yang lebih akan tetapi mereka memutuskan, merencanakan dan melakukan bertindak sendiri, alih-alih mengikuti instruksi dari beberapa struktur komando hierarkis.

baca juga: Khilafah Menurut Ikhwanul Muslimin (Pemikiran Hasan Al-Banna)

“Dalam pandangan kami, definisi terorisme lone wolf harus diperluas untuk mencakup individu yang terinspirasi oleh kelompok tertentu, tetapi yang tidak di bawah perintah orang lain, kelompok atau jaringan. Mereka mungkin anggota jaringan, tetapi jaringan ini bukan organisasi hierarkis dalam arti kata klasik,” tulis Bakker.

A. Penyebabkan serta ciri dari  lone wolf dalam aksi terorisme.

1. Aksi terorisme lone wolf dilakukan secara mandiri

Sesuai namanya “lone”, penyerangan jenis ini dilakukan atas inisiatif sendiri, tidak terikat jaringan atau kelompok teroris lain. Mereka menyerang dengan pemahaman sendiri, survei target sendiri, dan bahkan merakit bom atau alat penyerangan pun sendiri. Pelaku teror perorangan ini umumnya adalah anak muda. 

2. Internet bisa mempengaruhi seseorang menjadi pelaku teror lone wolf

Para pelaku teror perorangan yang disebut sebagai lone wolf ini memiliki paham sendiri yang diperoleh dari internet, dengan berbagai propaganda kelompok radikal-teroris.

Kelompok radikal menjerat pengikutnya dengan doktrin atau meracuni pemikiran seseorang, seperti melalui tayangan video aksi yang menindas dan membantai kelompok radikal yang mengaku sebagai umat muslim. Dimulai dari timbul rasa empati, membuat seseorang menjadi radikal dengan sendirinya, dan termotivasi menjadi seorang lone wolf.

3. Di akhir 1990-an istilah lone wolf mulai populer

Kepala Departemen Pengetahuan dan Penelitian Akademi Kepolisian Belanda sekaligus Pakar Studi Terorisme di Universitas Leiden Profesor Edwin Bakker dalam tulisannya berjudul Mencegah Teror Lone Wolf menyebutkan, istilah lone wolf dipopulerkan pada akhir 1990-an oleh supremasi kulit putih Tom Metzger dan Alex Curtis sebagai bagian dari dorongan kepada sesama rasis, untuk bertindak sendiri karena alasan keamanan taktis ketika melakukan kejahatan kekerasan.

B. Aksi terorisme lone wolf yang terjadi di Indonesia.

1. Ledakan Bom di Sibolga

Ledakan bom terjadi di kawasan pemukiman warga di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Pancuran Bambu, Kecamatan Sibolga Sambas, Sumatera Utara, 12 Maret 2019. Peristiwa tersebut terjadi saat polisi hendak memeriksa rumah pasca-penangkapan terduga teroris Husain alias Abu Hamzah yang telah ditangkap.

Ketika Tim Detasemen Khusus 88 (Densus 88) akan memasuki halaman rumah, istri Husain dan anaknya masih berada dalam rumah. Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar ledakan dari dalam rumah. Ledakan tersebut diduga diledakan oleh keluarga teroris.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Kepolisian Indonesia, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan tidak menutup kemungkinan apabila jaringan tersebut masih terkait lone wolf lainnya.

2. Ledakan Bom di Mapolresta Solo

Terjadi ledakan bom oleh terduga teroris di Mapolresta Solo, pada 6 Juli 2016. Saat itu, Mapolresta Solo sedang melakukan apel. Di tengah kegiatan, ada seorang pria yang memaksa masuk.

Dilansir dari Antara, Kepala Kepolisian Resor Kota Surakarta Komisaris Besar Polisi Ahmad Luthfi menuturkan pelaku menerobos ke Mapolresta Surakarta seorang diri. 

Petugas sempat mencegat pelaku. Namun pelaku berhasil masuk sebelum terjebak oleh jalan buntu. Sempat dikejar oleh petugas, pelaku kemudian merogoh saku jaket untuk meledakan diri. 

Pelaku teridentifikasi sebagai Nur Rohman warga Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo. Atas aksi bunuh diri yang dilakukan, beberapa pihak mengategorikan sebagai aksi teror lone wolf.  

3. Ledakan bom di Mal Alam Sutera

Leopard Wisnu Kumala menjadi tersangka pada kasus pengeboman Mall Alam Sutera di Tangerang, pada 28 Oktober 2015. Ledakan besar terjadi dari arah toilet pria di Area West Lobby Mall Alam Sutera lantai Ground Floor. 

Ledakan tersebut terjadi ketika karyawan mal sedang istirahat makan siang, pada pukul 12.05 WIB. Satu orang karyawan menjadi korban, yang menyebabkan terluka pada bagian kakinya. 

Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) mengatakan bahwa motif tersebut terkait faktor ekonomi. 

Setelah diselidiki, Leopard tak terikat pada jaringan mana pun. Ia hanya melakukan pemerasan tertentu dengan melakukan aksi teror. Aksi tersebut dikategorikan sebagai lone wolf.

4. Bom bunuh diri Pos Pantau lalu lintas Kartasura

Pada 3 Juni 2019, terjadi ledakan bom bunuh diri yang mengakibatkan pelaku roboh dan luka-luka, di depan Pos Pantau Lalu Lintas Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Kepala Biro Penerangan Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menjelaskan kronologi peristiwa tersebut. 

Berdasarkan ciri-ciri pelaku, pria berinisial RA menggunakan kaos hitam, celana jeans dan menggunakan headset itu kemudian duduk di trotoar di depan pos selama lima hingga 10 menit. Kemudian sekitar pukul 22.45 WIB, ledakan pun terjadi. 

5. Aksi teror di Cikokol, Tangerang

Tiga anggota polisi di Cikokol, Tangerang, menjadi sasaran penikaman seorang teroris berinisial SA pada 20 Oktober 2016 lalu. Pelaku berinisial SA, melakukan penusukan kepada polisi secara membabi buta. 

Korban penyerangan SA adalah Kepala Kepolisian Sektor Tangerang Kota, Kepala Unit Pengendalian Masyarakat Polres Metro Tangerang Kota Iptu Bambang Haryani dan Bripka Sukardi, anggota Satuan Lalu Lintas Polsek Benteng. (Dilansir dari idtimes Indonesia)

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

five − 1 =