Wilayah Kekuasaan Teroris di Indonesia dan Faktornya

Kejahatan terorisme telah digolongkan dalam kejahatan istimewa/ luar biasa (extra ordinary crime). Hal itu karena melihat dan mengingat terorisme dilakukan oleh penjahat-penjahat yang tergolong profesional, merupakan produk rekayasa dan pembuktian kemampuan intelektual, terorganisir, dan didukung dana yang tidak sedikit. Selain itu, kejahatan ini bukan hanya menjatuhkan kewibawaan negara dan bangsa, tetapi juga mengakibatkan korban rakyat tidak berdosa yang tidak sedikit.

Kelompok teror selalu melakukan gerakan secara sistematis dan bergerak di lokus-lokus yang memungkinkan mereka mengembangkan gerakannya. ISIS misalnya, persebaran wilayah ISIS dan gerakan terorisme lainya di Indonesia antara lain berkisar di Ciputat, Jakarta Selatan, Bekasi, Solo, Jawa Tengah, Bima, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, Medan, dan Bengkulu dan Jawa Barat. 

Sementara kelompok Anshorud Daulah (JAD) Lampung pimpinan SL alias Abu Faisa, menjadikan daerah di Papua sebagai tempat latihan. Pengamat terorisme Al Chaidar Puteh dari Universitas Malikussaleh, Ketika di wawancarai di Lhokseumawe Aceh, menyatakan alasan kelompok SL alias Abu Faisa menjadikan Papua sebagai lokasi latihan teroris yaitu karena beberapa anggota mereka memiliki sejumlah perusahaan, termasuk bisnis pariwisata di sana.

Mereka memilih Papua karena memang di sana lahannya adalah lahan yang masih murah meskipun biaya operasionalnya memang mahal. Banyak di antara anggota kelompok (JAD) Lampung itu memiliki usaha di Papua, banyak perusahaan mereka di sana. Perusahaan konstruksi, ada juga (bisnis) wisata,” jelas Chaidar kepada BBC News Indonesia.

Dari paparan sini, bagi kelompok-kelompok teroris, Indonesia merupakan area yang dirasa tepat untuk mengembangkan gerakan kelompok-kelompok teror.

faktor faktor menyebar kelompok teroris di berbagai Wilayah.

Latar belakang Indonesia menjadi salah satu lahan yang subur atau “surga”, baik sebagai sumber perekrutan kelompok teror maupun aksi adalah: Pertama, faktor agama Islām yang dipeluk mayoritas rakyat Indonesia. Kedua, faktor geografis sangat berpengaruh. Luas wilayah dan bentangan pulau-pulau Indonesia, sangat menuntungkan aksi terorisme. Sebab mobilitas mereka akan sangat sukar dideteksi dan soal aparat keamanan yang terbatas.

Ketiga, faktor sosial-ekonomi pelaku bom yang sangat memprihatinkan juga menjadi faktor pendorong. Kemiskinan dan alinasi yang dialami pelaku bom membuat mereka merasa lebih baik mencari surga daripada hidup dalam kemiskinan, ditambah adanya iming- iming reward yang indah setelah mati.

Keempat, faktor karisma tokoh yang menyebarkan doktrin tersebut yang berpengaruh. Contohnya Dr. Azhari atau Noordin Moh. Top, para pengikutnya di Indonesia sangat terpesona oleh kebesaran dua tokoh tersebut. Terutama, bagaimana mereka dengan rela meninggalkan segala macam kenikmatan dunia yang mereka miliki untuk berjihād.

Kelima, faktor tingkat pendidikan seseorang yang terbatas berpengaruh pada pemahaman mereka tentang Islām. Interpretasi yang dilakukan kelompok teroris di mana mereka hanya menerjemahkan ayat-ayat suci secara hitam dan putih, menjadi lekas dijiwai oleh pelaku-pelaku yang memang tingkat pendidikannya terbatas. Jihād tidak lagi diartikan sebagai perlawanan terhadap diri sendiri (hawa nafsu), namun pembunuhan dan penghancuran akan segala hal yang berkaitan dengan Barat dan dunia yang tidak seimbang melihat posisi islam menurut kelompok teroris.

Artikel Terbaru

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × four =